Tag Archives: uji CBR

Perbedaan Batu Agregat A dan B

Kali ini, jualbatusplit akan menerangkan apa perbedaan agregat atau yang biasa disebut base coarse

Lapis pondasi bawah atau di sebut agregat lapis pondasi kelas B adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi dan tanah dasar. Fungsi dari lapis pondasi bawah ini antara lain yaitu:

  1. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda.
  2. Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
  3. Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
  4. Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
  5. Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

Lapis pondasi atas atau di sebut agregat lapis pondasi kelas A adalah bagian perkerasan yang terletak antara lapis pondasi bawah dan lapisan permukaan.Fungsi dari lapis pondasi ini antara lain yaitu:

  1. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda.
  2. Sebagai lapisan peresapan untuk pondasi bawah.
  3. Memberikan bantalan terhadap lapisan permukaan

Pada proyek pembangunan jalan,  material agregat yang di pakai sama yaitu batu pecah yang sudah di olah dengan mesin stone cruser dan gradasi atau ukuran di buat sama sesuai spesifikasi yang di butuhkan untuk pembuatan pondasi jalan raya. Pada pekerjaan pondasi jalan raya di bagi menjadi dua segmen yaitu meliputi pekerjaan perkerasan lapis pondasi agregat kelas B 30 cm atau sesuai spesifikasi yang diminta, setelah pekerjaan lapis pondasi kelas B selesai selanjutnya pekerjaan pondasi atas yang di sebut juga perkerasan lapis pondasi agregat kelas A dengan tebal 20 cm atau sesuai spesifikasi yang diminta. Pada proses pekerjaan  lapis pondasi terdiri dari penghamparan material, pemadatan, penyiraman dan yang terakhir uji CBR.

            Teknis Pelaksanaan Pekerjaan Agregat Lapis Pondasi A dan B.

  1. Penghamparan Material Agregat Lapis Pondasi

Penghamparan material adalah suatu proses meratakan agregat lapis pondasi setelah proses angkut menggunakan dump truk dari base camp. Penghamparan material agregat tidak boleh di lakukan apabila cuaca tidak mendukung seperti pada waktu hujan karena kadar air terlalu tinggi. Pemadatan harus dilakukan hanya bila kadar air dari bahan berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1 % di atas kadar air optimum, dimana kadar air optimum adalah seperti yang ditetapkan oleh kepadatan kering maksimum (modified) yang ditentukan olehspesifikasi SNI. Alat untuk menghamparkan material  agregat lapis pondasi menggunakan Motor Grader. Setelah material sudah rata sesuai elevasi dan ketebalan yang di tentukan proses selanjutnya yaitu di padatkan menggunakan alat pemadat vibratory roller.

  1. Proses Pelaksanaan Pemadatan Material Agregat Lapis Pondasi

Pemadatan adalah suatu peristiwa bertambahnya berat volume kering oleh beban dinamis, akibat beban dinamis butir-butir agregat seperti kerikil dan pasir merapat satu sama lain yang saling mengunci sebagai akibat berkurangnya rongga udara. Tujuan pemadatan dapat tercapai dengan pemilihan bahan agregat, cara pemadatan, pemilihan mesin pemadat, dan jumlah lintasan atau passing yang sesuai. Pada pekerjaan pemadatan lapis pondasi agregat di pakai alat pemadat vibratory roller merk Hamm dengan berat 20 ton. Yang perlu di perhatikan dalam pekerjaan pemadatan yaitu penghamparan yang agak berlubang atau kurang rata perlu di tambahkan agregat material secara manual agar mendapat hasil yang padat dan merata.

Proses pekerjaan pemadatan di lapangan yang pertama kali setelah material di hamparkan secara merata yaitu di padatkan dengan compactor setelah agak merata kemudian di siram air secara merata dengan menggunakan water tank dengan kapasitas 5000 liter. Setelah air merata di permukaan agregat yang sudah di padatkan kemudian agregat lapis pondasi di padatkan lagi dengan vibratory roller sampi merata dan padat. Fungsi penyiraman ini untuk pemadatan, karena dengan adanya penyiraman air ini rongga-rongga antara agregat akan terpadatkan dengan sendirinya dan saling mengunci sehingga tidak ada rongga udara di dalamnya.

  1. Uji CBR

CBR adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu bahan terhadap bahan standard dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama cara umum. Perkerasan jalan harus memenuhi 2 syarat, yaitu :

  1. Secara keseluruhan perkerasan jalan harus cukup kuat untuk memikul berat kendaraan yang akan memakainya.
  1. Permukaan jalan harus dapat menahan gaya gesekan dan keausan dari roda-roda kendaraan, juga terhadap air dan hujan.

Field CBR Test

Bila perkerasan jalan tidak mempunyai kekuatan secukupnya secara keseluruhan, maka jalan tersebut akan mengalami penurunan dan pergeseran, baik pada perkerasan jalan maupun pada tanah dasar. Akibatnya jalan tersebut akan bergelombang besar dan berlobang-lobang, sampai pada akhirnya rusak sama sekali. Sedangkan kalau perkerasan jalan tidak mempunyai lapisan yang kuat, maka permukaan jalan mengalami kerusakan yaitu berupa lobang-lobang kecil dan pada akhirnya akan bertambah banyak dan bertambah besar sampai perkerasan jalan menjadi rusak secara keseluruhan. Jadi untuk menilai kekuatan dasar atau bahan lain yang hendak dipakai untuk menentukan tebal lapisan perkerasan dipergunakan  percobaan CBR. Nilai CBR ini digunakan untuk menilai kekuatan yang juga dipakai sebagai dasar untuk penentuan tebal lapisan dari suatu perkerasan.

Kekuatan tanah dasar tentu banyak tergantung pada kadar airnya. Makin tinggi kadar airnya, makin kecil kekuatan CBR dari tanah tersebut. Walaupun demikian, hal itu tidak berarti bahwa sebaiknya tanah dasar di padatkan dengan kadar air rendah untuk mendapatkan nilai CBR yang tinggi, karena kadar air tidak konstan pada nilai rendah itu. Setelah pembuatan jalan, maka air akan dapat meresap kedalam tanah dasar sehingga kekuatan CBR turun sampai kadar air mencapai nilai yang constant. Kadar air yang constant inilah yang disebut kadar air keseimbangan. Batas-batas kadar air dan berat isi kering dapat ditentukan dari hasil percobaan laboratorium, yaitu percobaan pemadatan dan CBR.Gambar 6.6 alat uji CBR menggunakan Field cbr test set (cbr lapangan)

  1.     Uji Sand Cone

Sand cone test adalah pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat kering,bersih,keras,tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir bebas. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dari suatu tanah di lapangan dengan berat isi kering laboratorium. Gambar proses tes kepadatan lapangan menggunakan alat sand sone. Dari proses uji CBR dan Sand Cone apabila di dapat data tidak sesuai spesifikasi maka akan di lakukan perbaikan lapis agregat pondasi atau pemadatan ulang.

Uji Sand Cone

Dibawah ini urutan gambar proses pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan agregat kelas B sampai terakhir pengujian CBR dan sand cone.

lapis pondasi agregatGambar  Lapis Pondasi Agregat Kelas B

 

penghamparan agregatGambar  Proses penghamparan material pondasi

 

pemadatan agregatGambar  Pekerjaan Pemadatan

 

penyiraman air dan pemadatan agregat
Gambar  Pekerjaan Penyiraman Air dan Pemadatan

 

hasil akhir pemadatan agregat
Gambar  Hasil Akhir setelah selesai proses pemadatan

Untuk Anda yang membutuhkan batu split maupun agregat base coarse, bisa menghubungi nomor 0853-2323-3399 untuk info lebih lanjut.

sumber